Bahagianya Martini Cs Kini Tak Lagi Ditahan Perjalanan Kasus Pelemparan Pabrik Tembakau di Lombok

Tangis bahagia keluarga menyambut kedatangan empat ibu ibu di Desa Wajageseng, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang sebelumnya ditahan polisi terkait kasus pelemparan bangunan pabrik tembakau UD Mawar Putra. Penahanan empat ibu ibu itu akhirnya ditangguhkan dan mereka bisa pulang ke rumah dan bertemu keluarga masing masing, Senin (22/2/2021) sore. Warga dan para pengantar ramai mengerumuni rumah ibu ibu tersebut di Dusun Eat Nyiur, Desa Wajageseng.

Setelah mendapat penangguhan penahanan, ibu ibu tersebut mengaku sangat senang. Mereka tidak sabar ingin bertemu keluarga lagi. Saking bahagianya, salah seorang di antaranya tidak bisa banyak berkomentar.

"Bahagia banget pak, alhamdulillah kita bersyukur bisa keluar dari tahanan," kata Martini, usai penangguhan penahanan di Pengadilan Negeri (PN) Praya, Senin (22/2/2021) siang. Martini merupakan salah seorang ibu yang membawa anaknya ke sel tahanan karena si balita masih menyusui. Empat ibu rumah tangga yang ditahan adalah Nurul Hidayah (38), Martini (22), Fatimah (38), dan Hultiah (40).

Mereka dilaporkan pemilik pabrik tembakau UD Mawar Putra, setelah melakukan pelemparan pada 26 Desember 2020. Selain keempat orang itu, dua balita juga turut masuk sel tahanan karena membutuhkan asupan air susu ibu. Setelah mendapat sorotan publik, keempat ibu tersebut mendapatkan jaminan penangguhan penahanan dari banyak pihak.

Mulai dari Pemprov NTB, kepala Desa Wajageseng, suami, dan tim kuasa hukum. Gubernur Provinsi NTB Zulkieflimansyah pun turun menjeguk keempat ibu ibu tersebut bersama Komisi III DPR RI. "Terima kasih kepada ibu Sari Yulianti, Anggota DPR Komisi III Dapil NTB yg membantu proses penangguhan ibu ibu di Rutan Praya siang ini," kata Zulkieflimansyah di akun medis sosialnya, Senin (22/2/2021).

Zulkieflimansyah berterima kasih kepada teman teman dari Pemda Provinsi NTB, Pemda Lombok Tengah, Pengadilan Negeri Praya, Polres Lombok Tengah, dan teman teman Rutan Praya. Juga anggota DPRD Provinsi dan DPRD Lombok Tengah. "Semua bersinergi dan bekerja luar biasa sehingga semua prosesnya berjalan lancar," katanya.

Sebelumnya, sebanyak empat perempuan asal Desa Wajageseng, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, harus mendekam di Rumah Tahanan (Rutan) Praya sejak Rabu (17/2/2021). Penahanan keempat wanita tersebut karena dilaporkan melempar pabrik tembakau UD Mawar, milik Suhardi pada 26 Desember 2020. Dua dari empat ibu yang ditahan bahkan membawa serta balita ke Rumah Tahanan (Rutan) Praya Lombok Tengah.

Salah satu warga yang ditahan bernama Fatimah (40). Suami Fatimah, Ismayadi (41) mengaku kebingungan untuk menjelaskan kepada anak anaknya yang menanyakan keberadaan ibu mereka. "Saya bingung, anak saya tanya ibunya terus. Saya katakan ibunya masih berobat, karena anak anak terbiasa bersama ibunya," kata Ismayadi kepada Kompas.com di kediamannya, Sabtu (20/2/2021).

Ismayadi mengaku sempat berada di Kantor Kejaksaan Negeri Lombok Tengah ketika istrinya diperiksa. Dia diminta menandatangani surat penangguhan penahanan. Hanya saja karena tak paham dan buta soal hukum, dirinya tak berani menandatangani apapun.

"Saya tidak paham apa yang harus saya tandatangani. Tidak ada yang tahu hukum saat istri saya dan tiga ibu lainnya diperiksa. Tahu tahunya mereka sudah dibawa ke sel tahanan polsek," kata Ismayadi. Dia juga heran hanya karena melempar atap dari spandek pabrik tembakau milik Suhardi, istrinya harus ditahan. Ismayadi juga mengajak Kompas.com melihat langsung lokasi pabrik dan bekas lemparan yang membawa istrinya hingga ditahan.

Baginya kerusakan itu tidak sepadan dengan hukuman yang diterima istrinya dan tiga ibu lainnya. Ismayadi juga sedih tak bisa menjenguk istrinya di penjara, apalagi anaknya terus menanyakan ibunya. Pantauan Kompas.com , lokasi pabrik UD Mawar milik Suardi berada di tengah perkempungan warga di Dusun Eat Nyiur, Desa Wajageseng, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah.

Sekilas terlihat tak ada kerusakan berarti. Hanya sebagian spandek tampak lecet karena lemparan kayu dan batu yang tak seberapa besar. Agustino (23) suami Martini dan Mawardi (41) suami Nurul Hidayah sempat menjenguk istri mereka ke Rutan Praya pada Sabtu sore.

Namun karena jam besuk telah ditutup, keduanya tak bisa bertemu. Apalagi keduanya tidak tahu istri istri mereka ditahan lantaran ketika itu tengah bekerja. "Saya biasa lihat anak saya yang masih balita masin di rumah. Sekarang dia dipenjara bersama ibunya, sakit rasanya dada saya," kata Agustino.

Agustino hanya bisa berharap istrinya segera dibebaskan. Menurut dia, istrinya melempar pabrik karena marah dengan bau menyengat pabrik tembakau. Bau menyengat itu juga menyebabkan anak mereka kerap sesak napas.

Namun, keluhan dan protes mereka dianggap angin lalu oleh pemilik pabrik tembakau. Mawardi suami Nurul Hidayah juga menyatakan hal yang sama. Dia masih belum bisa menerima alasan penahanan istrinya.

Baginya apa yang dilakukan istrinya adalah karena rasa kekecewaan yang sama dengan 250 kepala keluarga lainnya yang khawatir akan kesehatan anak mereka. "Ini sudah lama, sejak 2006 2007, tapi tidak pernah ada perubahan. (pemilik) diajak ketemu musyawarah, tapi tak pernah ada perubahan, bau dari pabrik tetap ada, " katanya. Mawardi berharap istrinya segera bebas dan tak perlu menjalani persidangan karena memang tidak.

Yan Mangandar dari Biro Konsultasi Bantuan Hukum Universitas Mataram (BKBH) Unram yang mendampingi warga turut sedih atas apa yang dialami keempat ibu tersebut. Bagi Yan, gambaran itu adalah wajah hukum saat ini yang masih menekan dan mengorbankan orang orang kecil dan membela mereka yang berada. Dia juga kecewa kasus dengan ancaman hukuman lebih dari lima tahun tidak ada kuasa hukum yang mendampingi.

"Penahanan sangat berlebihan dan tidak ada pertimbangan yang terbaik bagi ibu ibu dan anak anak ini. Ini yang paling utama, anaknya masih membutuhkan ASI. Menurut kami ini kasus kecil tapi ditahan seperti ini," kata Yan. Baginya Pasal 170 KUHP yang disangkakan pada keempatnya, terlalu berlebihan karena melihat fakta kerusakannya tidak sesuai dengan hukuman yang dijeratkan. "Tak ada sama sekali kerusakan berarti, itu hanya spandek yang keok, dan tidak menimbulkan cacat atau meninggalkan kerugian yang besar lebih dari Rp 2,5 juta," katanya.

Yan juga mengingatkan penegak hukum melihat kondisi ini sebelum memutuskan melanjutkan ke persidangan. Suardi yang dikonfirmasi terkait ditahannya empat ibu rumah tangga itu, membenarkan bahwa dia melaporkan kasus perusakan tersebut. "Saya sebenarnya tidak mau melanjutkan kasus ini, tapi tindakan mereka melempar pabrik saya membuat pekerja saya ketakutan. Atap saya juga ada yang bolong karena batu, dan sudah kami perbaiki," kata Suardi saat ditemui di pabriknya.

"Saya heran mengapa kasus ini baru diributkan sekarang. Protes mereka telah terjadi sejak 2006 lalu," kata Suhardi. Suhardi mengaku telah mendapat izin membangun dan memproduksi tembakau rajangan sejak 2007 lalu. Bahkan anggota Dewan Lombok Tengah sempat melakukan sidak ke pabriknya dan tidak mencium bau apapun.

Ditanya apakah ada campuran bahan tertentu pada tembakaunya yang menimbulkan bau menyengat, Suhardi tak bisa mengungkapkannya karena itu rahasia usahanya. "Saya tidak bisa ungkapkan ya, itu rahasia usaha kami. Lihat saja ini tembakau yang kami jual, silakan dicium baunya," katanya sambil menunjukkan tembakau dalam bungkusan kecil.

Suhardi juga tidak memberi penjelasan apakah akan mencabut laporannya atau tidak. Dia hanya mempertanyakan alasan para ibu yang ditahan membawa serta anak mereka ke rutan. "Kenapa waktu melempar dan diperiksa tidak bawa anaknya? Kenapa sekarang setelah ditahan bawa anak anaknya, kan gitu," kata Suhardi.

Bantah menahan balita Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Lombok Tengah, Otto Sompotan membantah bahwa kejaksaan menahan anak anak. "Mengenai anak anak ini kami tidak tahu, karena ketika itu tidak ada kami lihat ada anak anak. Tiba tiba keluar di berita ada anak anak, kami tidak tahu ada anak anak," kata Otto. Dikatakannya mengenai keempat ibu ibu tersebut, masing masing, Nurul Hidayah (38), Martini (22), Hulyiah (40) dan Fatimah (49), telah jelas penanganannya.

Pertama, pihaknya sudah melakukan sesuai dengan SOP dan prosedur sesuai dengan ketentuan hukum acara pidana. Para tersangka disangkakan dengan Pasal 170 ayat 2 KUHP, yang ancaman hukumannya maksimal 5 tahun 6 bulan penjara. Mereka melakukan tindakan kekerasan secara bersama sama di depan umum terhadap benda, "Mereka melukan pelemparan ke gudang sehingga terjadi kerusakan di gudang tembakau. Karena tindakan itulah bisa dilakukan penahanan," ucap dia.

Pada saat tahap dua, kejaksaan sudah memberikan hak hak mereka. Ketika diantar ke kejaksaan pada Rabu (18/2/2021), pihak Kejaksaan telah meminta para tersangka menghubungi suaminya atau keluarga terdekat untuk mengajukan permohonan penangguhan penahanan atau tahanan kota serta ada penjaminnya. "Kami tunggu sampai sore tidak ada yang datang, seperti tidak merespons. sampai sore, sampai kantor sudah mau tutup tidak ada yang merespons, sehingga kami mempercepat prosesnya. Kita lakukan penahanan dan menitipkan mereka di Polsek di Lombok Tengah," kata kajari.

Recommended Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *